Menyajikan berita terhangat!

Keluarkan Petitum !! Buni Yani Beberkan Isi Tuntutannya Dalam Sidang Praperadilan Pertamanya !!?

Bagaimana nasib tersangka kasus dugaan penyebaran informasi yang menimbulkan rasa kebencian terkait cagub DKI Jakarta Ahok, Buni Yani? Sidang praperadilan pertamanya sudah digelar kemarin. Dalam sidang, Buni beberkan sejumlah tuntutan! Apa isinya?

  • Eka Sauma
  • 2016.12.14
  • 1345

    view

  • Buni Yani - SIAPA DIA?

    Sebagian besar masyarakat Indonesia mungkin tidak mengenal nama Buni Yani hingga pada akhir September lalu, saat ia mengunggah potongan video pidato Gubernur DKI Jakarta Basuki “Ahok” Tjahaja Purnama.

    Dalam unggahan video yang kemudian menjadi viral tersebut, Buni menuliskan transkrip pidato Ahok saat melakukan kunjungan kerja di Kepulauan Seribu.

    Transkrip itulah yang akhirnya menjadi awal kasus penistaan agama oleh Ahok alias kasus surah Al-Maidah ayat 51. Buni dianggap sengaja mencemarkan nama baik sang gubernur dengan tidak menuliskan kata “pakai” dalam transkripnya.

    Buni Yani - KARIR

    Seorang Peneliti

    Sumber: eskaha.com

    Dalam laman media sosial Linkedin-nya, tertulis bahwa Buni merupakan seorang peneliti dari Universitas Leiden, Belanda.

    Sejak 2010, ia mengambil gelar Doktoral sekaligus sebagai peneliti di Faculty of Social and Behavioral Sciences, Institute of Cultural Anthropology and Development Sociology, Leiden University.

    Pernah Tinggal di Amerika Serikat

    Setelah lulus dari Fakultas Sastra Inggris dari Universitas Udayana, Denpasar, Buni tinggal di Ohio, Amerika Serikat, sejak tahun 2000 hingga tahun 2012 untuk mengambil gelar master.

    Ia mendapatkan gelar Master of Arts dalam studi Asia Tenggara dari Ohio University, AS.

    Bekerja Sebagai Jurnalis

    Buni telah aktif sebagai jurnalis sejak sebelum berangkat ke Amerika Serikat. Sejak tahun 1996 hingga tahun 1999, Buni Yani bekerja sebagai jurnalis untuk Australian Associated Press (AAP) dan sering menulis tentang isu-isu terkait Asia Tenggara.

    Saat tinggal di Amerika Serikat, pria yang tinggal di Depok, Jawa Barat, ini juga pernah menjadi jurnalis untuk Voice of America (VOA).

    Mendapat Teror di Kampus

    Buni diketahui bekerja sebagai dosen di London School of Public Relations (LSPR), Jakarta, sejak 2004. Namun ia segera mengundurkan diri setelah mendapat ancaman yang dialamatkan kepadanya melalui kampus.

    Menurutnya, staf di kantornya menerima telepon dari orang tak dikenal yang berkata kasar; mengancam akan menyerbu kampus LSPR.

    Usai kasus video Ahok ini mulai mencuat di media massa dan di tengah masyarakat, Buni Yani mengeluarkan pernyataan terkait pengunduran dirinya.

    Karena kecintaan saya kepada kampus ini yang telah memberikan saya penghidupan dan tempat berkarya, maka saya merasa wajib melindunginya dari orang-orang yang ingin menyangkutkannya dengan aktivitas saya di luar kampus.

    Sumber: Siapakah Buni Yani?

    Pernah Menjadi Pendukung Ahok

    Meskipun saat ini Buni menjadi salah satu orang yang vokal mengkritisi Ahok, ternyata saat Pilkada DKI Jakarta 2012 lalu, ia merupakan pendukung pasangan Jokowi-Ahok.

    Ia mengaku berubah pandangan terhadap gubernur asal Bangka Belitung tersebut sejak April 2016, ketika ia menganggap tim Ahok memainkan isu SARA.

    Buni Yani - SIDANG PRAPERADILAN PERTAMA

    Sidang Digelar Selasa

    Sejak ditetapkan sebagai tersangka kasus dugaan penyebaran informasi yang menimbulkan rasa kebencian terkait calon gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok, sidang praperadilan untuk Buni Yani digelar oleh Pengadilan Negeri Jakarta Selatan Selasa kemarin.

    Buni Yani, per 23 November lalu, telah ditetapkan oleh Polda Metro Jaya sebagai tersangka atas dugaan pelanggaran terhadap pasal 28 ayat 2 juncto Pasal 45 ayat 2 UU 11/2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik.

    Dituduh Menyebarkan Informasi Menyesatkan

    Dilaporkan oleh relawan pendukung pasangan calon gubernur dan wakil gubernur DKI Jakarta Ahok-Djarot Saiful Hidayat, Buni dituduh dengan sengaja atau tanpa hak menyebarkan informasi menyesatkan. Laporan itu sendiri termasuk dalam laporan polisi bernomor LP/ 4837/ X/ 2016/ Dit Reskrimsus pada Jumat lalu. Pelapor disebutkan bernama Andi Windo.

    Pengacara Buni Yani, Aldwin Rahadian menilai kepolisian tidak memiliki alasan substansial untuk menetapkan kliennya menjadi tersangka. Pendapat sang pengacara inilah yang menjadi dasar pengajuan permohonan praperadilan ke PN Jakarta Selatan.

    Dijerat Karena Tiga Kalimat

    Sumber: cdn.tmpo.co

    Menurut Polda Metro Jaya, Buni dijerat dengan tuduhan ini karena tiga kalimat yang diunggah mantan dosen LSPR Jakarta tersebut ke akun Facebook miliknya.

    Kalimat itu adalah "Penistaan terhadap agama?", "Bapak-Ibu [pemilih Muslim]... dibohongi Surat Al Maidah 51"... [dan] "masuk neraka [juga Bapak-Ibu] dibodohi", dan "Keliatannya akan terjadi sesuatu yang kurang baik dengan video ini".

    Penetapan Status Buni Yani Sesuai Prosedur

    Dalam sidang praperadilan kemarin, kuasa hukum Buni Yani menyebutkan bahwa penetapan tersangka terhadap kliennya tidak sesuai dengan prosedur yang sah. Namun, hal ini langsung dibantah Polda.

    Kepala Bidang Hukum (Kabidkum) Polda Metro Jaya, Kombes (Pol) Agus Rohmat menyatakan secara tegas jika penetapan status Buni Yani sebagai tersangka penghasutan SARA sudah sesuai prosedur.

    Sudah kita lakukan prosedur yang berlaku dimana ditetapkan dalam hukum pidana. Apa yang jadi dalil pemohon akan kami jawab di sidang besok.

    Sumber: Praperadilan Buni Yani, Polda: Penetapan Status Tersangka Sesuai Prosedur

    Prinsipnya penyidik sudah melakukan sesuai prosedur. Silakan saja dari pihak pemohon, kita akan berikan jawaban besok, jadi mohon untuk bersabar.

    Sumber: Praperadilan Buni Yani, Polda: Penetapan Status Tersangka Sesuai Prosedur

    Isi Tuntutan Buni Yani

    Dalam sidang praperadilan-nya, tersangka kasus dugaan pencemaran nama baik, penghasutan berbau suku, agama, ras, dan antar golongan (SARA), Buni Yani menyebutkan sejumlah tuntutan atau petitum.

    Untuk mematahkan status tersangka kliennya, pengacara Buni Yani menilai termohon, dalam hal ini penyidik Direktorat Reserse Kriminal Khusus Polda Metro Jaya, tidak menunjukkan surat tugas ataupun surat perintah penangkapan terhadap Buni Yani.

    Tidak Adanya Gelar Perkara

    Selain itu, menganggap kasusnya erat kaitannya dengan kasus dugaan penistaan agama oleh Ahok, Buni Yani mempermasalahkan tidak dilakukannya gelar perkara dalam penetapan status tersangka dirinya, berbeda dengan kasus perkara Ahok.

    ‎Karena dinilai cacat hukum, pengacara Buni Yani ‎berharap hakim menerima dan mengabulkan praperadilan pemohon untuk seluruhnya, serta menyatakan penetapan tersangka atas nama pemohon tidak sah secara hukum.

    Kami meminta penangkapan terhadap pemohon tidak sah secara hukum. ‎Majelis hakim menyatakan dan memerintahkan termohon untuk memulihkan hak pemohon dalam segala kemampuan memulihkan harkat dan martabat dan kemampuan secara hukum.

    Sumber: Tuntutan Buni Yani dalam Sidang Praperadilan

    Selain itu, Aldwin juga meminta hakim menghukum termohon agar membayar biaya persidangan.

    PENUTUP

    Penyidik tim Subdit Cyber Crime Polda Metro Jaya sebelumnya menetapkan status tersangka terhadap Buni Yani berdasarkan alat bukti dan pemeriksaan saksi serta ahli.

    Penyidik Polda menjerat Buni dengan Pasal 28 ayat 2 jo Pasal 45 ayat 2 UU Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE).

    Kalau kamu suka artikel ini, ayo klik Suka!

    Menyajikan berita infotainment setiap hari

    Beritahu artikel ini pada teman
    • Tweet
    • Share

    Artikel pada kategori yang sama

    Artikel terkait

    Kata Kunci Terkait

    Cari artikel rangkuman dari kata kunci