Menyajikan berita terhangat!

Cut Meyriska Sampai Tiga Tahun Takut Dengan Air Dan Laut !

Musibah di Aceh beberapa waktu lalu membuat ingatan Cut Meyriska melayang ke tahun 2004 saat bencana tsunami melanda. Ia menceritakan bagaimana derita yang ia lewati untuk melewati segala rintangan yang harus dihadapi.

  • Kurenai
  • 2016.12.19
  • 52

    view

  • CUT MEYRISKA - TIGA TAHUN MENGALAMI TRAUMA

    @cutratumeyriska

    instagram

    Sumber: www.instagram.com

    Jika mendengar musibah di Aceh, ingatanku langsung melayang ke tahun 2004, waktu bencana tsunami melanda. Saat itu sedang musim libur sekolah. Aku dan beberapa saudaraku berlibur ke Sabang. Kami menginap di Hotel Samudera. Sabang itu lokasinya berada di sebuah pulau kecil, yaitu Pulau Weh.

    @cutratumeyriska

    instagram

    Sumber: www.instagram.com

    Pada saat terjadi tsunami hari Minggu pagi, yang sedang berada di hotel hanya aku dan saudara sepupu-sepupuku. Kami semua usianya masih belasan tahun. Aku sendiri ketika itu baru berumur 11 tahun. Harusnya pamanku ada di hotel pula. Tapi hari Minggu itu dia pulang ke Aceh dan akan kembali lagi siang harinya. Ibuku masih berada di Aceh. Rencananya ibuku akan menyusul ke Sabang pada hari Senin.

    @cutratumeyriska

    instagram

    Sumber: www.instagram.com

    Saat itu tak pernah terbayang di benakku akan ada kejadian yang demikian dahsyat. Air laut naik ke darat hingga setinggi pohon kelapa. Sebelumnya alam Aceh selalu dalam keadaan tenang. Tidak ada musibah gempa bumi apalagi banjir air bah.

    @cutratumeyriska

    instagram

    Sumber: www.instagram.com

    Minggu pagi itu aku dan para sepupu masih berleha-leha di kamar hotel di lantai atasi. Saat aku sedang berada di kamar mandi, tiba-tiba banyak orang berteriak-teriak air laut pasang, air laut naik. Aku sangat kaget. Aku belum mengerti makna orang berteriak-teriak air laut pasang, air laut naik. Namun ikut panik, karena pintu kamar mandiku digedor-gedor, menyuruh aku keluar.

    @cutratumeyriska

    instagram

    Sumber: www.instagram.com

    Beberapa menit kemudian terdengar suara air bah menghantam tembok. Lampu kemudian mati. Kami pun saling berpelukan. Tidak mengerti apa yang terjadi. Aku kemudian melihat keluar jendela hotel. Air laut tenyata naik ke darat. Menggenangi daratan. Lantai bawah hotel terendam air. Kami semua bingung tidak tahu apa yang harus kami perbuat. Telepon mati. Listrik mati. Handphone tidak ada sinyal. Tidak ada petugas hotel. Aku tidak bisa menghubungi ibuku. Suasananya benar-benar sepi.

    @cutratumeyriska

    instagram

    Sumber: www.instagram.com

    Selama dua hari kami makan dari perbekalan yang kami bawa. Setelah makanan kami habis, aku berdua bersama saudaraku mencoba mencari-cari makanan yang mengapung di dalam hotel. Aku menemukan instan yang mengambang. Kami mencoba merendamnya dengan air aqua, lalu kami jemur di sinar matahari. Setelah mi instan itu agak lembek, baru kami makan.

    @cutratumeyriska

    instagram

    Sumber: www.instagram.com

    Jika ada buah apel dan mangga milik dapur hotel yang mengapung di air, maka aku ambil dan kami makan. Kami makan seadanya yang ditemukan di air yang tergenang. Kami terisolir di hotel hingga lima hari, sampai seorang saudaraku menjemput dengan menggunakan perahu motor.

    @cutratumeyriska

    instagram

    Sumber: www.instagram.com

    Dari pantai Sigli, untuk bisa sampai ke rumahku, kami menumpang truk pembawa jenazah. Kami juga berjalan kaki. Karena waktu itu, belum ada angkutan umum beroperasi. Pantai Sigli sudah luluh lantak. Aku tidak tahu nasib keluargaku. Ketika sampai di rumah, aku sangat senang bisa bertemu ibuku Cut Suhamita yang ternyata masih hidup. Ibuku juga sempat menyangka aku tidak selamat. Di rumahku sudah ada pengajian selama beberapa hari, karena semua orang mengira aku dan sepupu-sepupuku terkena tsunami.

    @cutratumeyriska

    instagram

    Sumber: www.instagram.com

    Kata ibuku, selama aku lost kontak, ibuku setiap hari menangis dan terus mengurung diri di kamarnya. Pengalaman tsunami benar-benar membekas di pikiranku. Aku jadi takut melihat air, takut melihat laut, takut ke kamar mandi sendiri. Sampai tiga tahun aku masih takut dengan air dan laut. Sampai sekarang, ketika aku berada di kamar mandi, pasti ada saudaraku yang menunggu di luar. Aku takut, tiba-tiba bencana besar datang lagi.

    Sumber: C&R.955 THN XIX/DESEMBER 2016

    Kalau kamu suka artikel ini, ayo klik Suka!

    Menyajikan berita infotainment setiap hari

    Beritahu artikel ini pada teman
    • Tweet
    • Share

    Artikel pada kategori yang sama

    Artikel terkait

    Kata Kunci Terkait

    Cari artikel rangkuman dari kata kunci