Menyajikan berita terhangat!

Benjamin Netanyahu Tuding Penabrak Yang Di Tembak Mati Tentara Israel Adalah Anggota ISIS !?

Melanjutkan kejadian pria Palestina yang menabrakkan truk ke tentara Israel, PM Benjamin Netanyahu yang mengaku telah mengetahui identitas pelaku menyatakan bahwa penabrak adalah pendukung ISIS. Apa yang melatarbelakangi tudingannya?

  • 437

    view

  • Tweet
    Share

    Benjamin Netanyahu - PROFIL

    Benjamin Netanyahu

    Nama Lengkap: Benjamin Netanyahu
    Tempat Lahir: Tel Aviv, Israel
    Tanggal Lahir: 21 Oktober 1949
    Kewarganegaraan: Israel
    Partai Politik: Likud
    Alma mater: Massachusetts Institute of Technology (SB, SM), Harvard University
    Profesi: Penulis, konsultan ekonomi, Marketing executive, politisi
    Jabatan: PM Israel ke-9 dan ke-13
    Pasangan: Miriam Weizmann (1972–1978), Fleur Cates (1981–1984), Sara Ben-Artzi (1991–)

    Biografi

    Benjamin "Bibi" Netanyahu adalah mantan komando pasukan khusus Israel, diplomat dan politisi.

    Sekarang, Netanyahu menjabat sebagai Perdana Menteri Israel yang ke-17.

    Benjamin Netanyahu - KARIR

    Latar Belakang

    Meski lahir di Tel Aviv, Israel, tetapi Netanyahu dibesarkan di Yerusalem.

    Netanyahu menghabiskan masa remajanya di daerah Philadelphia, tempat di mana ayahnya, seorang sejarawan Yahudi ternama, Benzion Netanyahu, bekerja sebagai profesor.

    Pada tahun 1967, Netanyahu kembali ke Israel untuk bergabung dengan unit Pasukan Pertahanan elit Israel, "Sayeret Matkal," dan terlibat dalam sejumlah operasi militer, termasuk penyelamatan dramatis penumpang pesawat jet Sabena yang dibajak pada tahun 1972. Saat itu, dengan memakai kode nama "Operation Isotope," penyelamatan tersebut dipimpin oleh PM Israel di masa yang akan datang, Ehud Barak.

    Pekerjaan Diplomatik

    Netanyahu kembali ke AS pada tahun yang sama dan mendapat gelar dalam bidang arsitektur dan administrasi bisnis dari Institut Teknologi Massachusetts. Pada tahun 1976, dia dipekerjakan oleh Boston Consulting Group, tetapi kembali ke Israel setelah mendapat kabar tentang kematian kakak tertuanya, Yoni, yang terbunuh saat mencoba membebaskan tawanan dari maskapai Air France yang dibajak di Uganda.

    Netanyahu menjadi sangat terlibat dalam upaya kontraterorisme internasional, yang sangat membantu dalam karir politiknya: pertama, mengabdi di kedutaan besar Israel di Washington, DC (1982-1984), kemudian menjabat sebagai duta besar Israel untuk PBB (1984-1988). Selama masa kerjanya di PBB, Netanyahu berhasil memimpin kampanye untuk menyingkap arsip PBB tentang kejahatan perang Nazi.

    Karir Politik

    Kandidat PM dari Partai Likud

    Pada tahun 1988, Netanyahu terpilih sebagai anggota Knesset (parlemen Israel) oleh partai sayap kanan, partai Likud dan mengabdi sebagai wakil menteri luar negeri. Lima tahun kemudian, dia terpilih sebagai ketua partai Likud dan kandidat PM dari partai tersebut.

    Pada tahun 1996, Netanyahu terpilih sebagai PM Israel, mengalahkan PM sebelumnya, yang merupakan kandidat dari partai buruh, Shimon Peres. Netanyahu menjabat sebagai PM hingga tahun 1999.

    Memorandum Hebron dan Sungai Wye

    Sepanjang masa jabatannya, Netanyahu menandatangani Memorandum Hebron dan Sungai Wye, mempercepat proses perdamaian dengan Palestina. Ia juga memperluas privatisasi pemerintah, meliberalisasi regulasi mata uang dan mengurangi defisit.

    Mundur dari Politik

    Netanyahu mengundurkan diri dari Knesset setelah kalah di pemilu melawan mantan komandannya, Barak.

    Netanyahu kemudian bekerja di sektor privat dan berkeliling untuk memberikan kuliah.

    Sumber: f.a7.org

    Kembali ke Dunia Politik

    Namun, pada tahun 2002, Netanyahu kembali ke dunia politik, menjabat sebagai menteri luar negeri sebelum menjadi menteri keuangan.

    Pada tanggal 31 Maret 2009, Netanyahu disumpah unruk menjadi PM yang kedua kalinya, menegaskan kemenangannya dengan membentuk pemerintah persatuan nasional dan menyerukan negara demilitarisasi Palestina yang mengakui negara Yahudi.

    Benjamin Netanyahu - KONTROVERSI

    Bertentangan dengan AS

    Netanyahu mulai bertentangan dengan AS pada bulan November 2013. Hal ini disebabkan oleh keberatannya terhadap perjanjian yang dicapai oleh AS dan Iran berkaitan dengan program nuklir Iran.

    Perjanjian ini meminta Iran untuk mengurangi atau menangguhkan upaya pengayaan uranium dengan imbalan AS dan Uni Eropa akan mengurangi sanksi yang telah menyulitkan perekonomian Iran. Menurut CNN, Netanyahu menyebutkan perjanjian ini sebagai “kesalahan sejarah.”

    Konflik di Jalur Gaza

    Pada tahun 2014, terjadi kekacauan besar akibat konflik yang berkembang dengan cepat sepanjang musim panas antara kelompok militer Palestina, Hamas dan Israel setelah terbunuhnya tiga orang remaja.

    Wilayah Gaza menjadi sasaran pasukan Israel sebagai benteng Hamas, dengan ribuan roket ditembakkan. Konflik ini mendapat kecaman internasional atas kehancuran dan jumlah korban jiwa yang besar dari pihak sipil.

    Pecat Anggota Kabinet

    Pada bulan Desember tahun yang sama, Netanyahu memecat dua anggota kebinetnya terkait kritikan mereka terhadap pemerintah, dan memprakarsai pembubaran parlemen koalisi, dengan pemilu baru akan diadakan pada bulan Maret tahun depan.

    Pada awal Maret 2015, dua minggu sebelum pemilu di negaranya, Netanyahu berbicara dihadapan Kongres AS, masih melanjutkan kritiknya mengenai kebijakan Amerika terhadap program nuklir Iran. Meskipun begitu, Presiden Obama masih tetap meneruskan kebijakannya tersebut.

    Retorika Anti-Arab & Nasib Palestina

    Pada pemilu yang berlangsung pada pertengahan bulan Mei, Netanyahu menang mengalahkan Isaac Herzog dari aliansi Uni Zionis, yang lebih berfokus pada isu domestik sepanjang masa kampanyenya. Partai Likud memperoleh 30 kursi di parlemen dan siap untuk menjadi kepala pemerintahan koalisi.

    Kontroversi muncul ketika analis mengkritik Netanyahu yang memainkan retorika anti-Arab pada jam-jam terakhir kampanye; memprovokasi pendukung sayap kanan dengan memunculkan ketakutan akan banyaknya orang Arab mendatangi kotak suara.

    Selain itu, Netanyahu juga membuat komentar yang meragukan terkait dukungannya terhadap pembentukan negara Palestina.

    Dengan banyaknya kecaman internasional, dia mengklarifikasi pernyataannya segera setelah pemilu dan mengatakan solusi dua-negara masih di atas meja—meskipun tidak ada yang mau percaya.

    Benjamin Netanyahu - KEHIDUPAN PRIBADI

    Sara Ben-Artzi

    Netanyahu memiliki seorang istri, Sara, seorang psikolog anak.

    Keduanya dikaruniai dua orang anak: Yair dan Avner. Netanyahu juga memiliki seorang putri, Noa, dari pernikahan sebelumnya, yang berakhir pada tahun 1978.

    Benjamin Natanyahu - SERANGAN HARI MINGGU DI YERUSALEM TIMUR

    Pria Palestina Tabrakkan Truk ke Tentara Israel

    Minggu lalu, serangan menggunakan truk terjadi di Yerusalem. Kejadian ini mengakibatkan empat orang tewas dan melukai setidaknya 13 orang. PM Israel Benjamin Netanyahu sendiri mengatakan sudah mengetahui identitas orang Palestina yang menabrakkan truk ke kerumunan tentara Israel tersebut.

    Lebih lanjut, rezim Israel mengatakan bahwa tubuh pria Palestina yang ditembak mati setelah serangan menggunakan truk di al-Quds, Yerusalem timur ini tidak akan dikembalikan kepada keluarganya, bahkan akan mengambil tindakan yang keras terhadap pendukung dan keluarganya, seperti yang diungkapkan oleh Gilad Erdan, Menteri Keamanan Publik Israel.

    Tubuhnya akan dikubur oleh pasukan keamanan dan di tempat yang tidak bisa diakses oleh pendukung dan keluarganya.

    Sumber: Israel says won’t return body of Palestinian trucker

    Netanyahu Tuduh Penabrak Sebagai ISIS

    Di hari yang sama dengan kejadian tersebut, kabinet Israel, yang dipimpin oleh PM Benjamin Netanyahu, memutuskan untuk menghancurkan rumah supir truk tersebut, yang telah diidentifikasi oleh sumber mereka di Palestina sebagai Fadi Qanbar – mantan tahanan di penjara Israel dan penduduk kota tua di Yerusalem, al-Quds.

    Kabinet Israel juga menyetujui penahanan administratif bagi mereka yang menyatakan simpati terhadap pria Palestina ini dan bagi siapapun yang mencoba melakukan hal serupa. Lebih lanjut, Netanyahu menyatakan bahwa Qanbar, yang berusia 28 tahun ini adalah pendukung grup teroris Daesh (ISIS).

    Tindakan Keras Bagi Keluarga Penabrak

    Sementara itu, Menteri Perumahan dan Konstruksi rezim Israel, Yoav Galant juga menggalakkan tindakan yang keras bagi keluarga pengemudi truk ini, dengan mengatakan:

    Harga yang harus dia bayar adalah dengan penghancuran rumah-rumah dan pengusiran keluarganya.

    Sumber: Israel says won’t return body of Palestinian trucker

    Israel Blokir Jabel Mukaber

    Sehari setelah kejadian, polisi Israel menahan sembilan orang yang memiliki kaitan dengan Qanbar, termasuk anggota keluarganya.

    Pasukan Israel juga memblokir pintu masuk di sekitar lingkungan Jabel Mukaber di al-Quds, Yerusalem timur, tempat kediaman Qanbar, dan memeriksa setiap mobil yang meninggalkan area tersebut.

    Perpanjangan dari Ketegangan Tepi Barat

    Serangan truk ini sendiri adalah serangan terbaru dalam serangkaian ketegangan antara pemberontak Palestina dan pasukan Israel di Tepi Barat, yang telah menyebabkan 270 orang warga Palestina meninggal sejak Oktober 2015.

    Ketegangan ini pertama kali pecah pada bulan Agustus tahun yang sama, ketika Israel membatasi jumlah jamaah muslim Palestina yang bisa masuk ke kawasan masjid al-Aqsa di al-Quds, Yerusalem timur.

    Warga Palestina: Intifada Ketiga

    Warga Palestina menilai gelombang protes yang masih berlangsung ini sebagai Intifada yang ketiga dalam melawan pendudukan rezim Israel.

    Terkait dengan serangan truk ini, Gerakan Pertahanan Palestina yang bermarkas di Gaza, Hamas, mengatakan bahwa kejadian ini adalah “respon yang alami terhadap kejahatan pendudukan Israel dan pelanggaran mereka yang mengorbankan rakyat, tanah dan tempat-tempat suci kami.”

    PENUTUP

    Pernyataan ini sekaligus menegaskan bahwa Hamas dan Intifada Yerusalem akan tetap dilanjutkan dan segala upaya untuk membunuh, mengkriminalisasi dan meneror warga Palestina tidak akan menggoyahkan semangat mereka untuk melawan rezim Israel.

    Sementara, dari pihak internasional, Uni Eropa diberitakan sangat mengutuk serangan tersebut. Begitu pula utusan PBB untuk proses perdamaian di Timur Tengah, Nickolay Mladenov. Sementara itu, PM Israel, Benjamin Natanyahu masih bersikukuh menuding pelaku serangan ini sebagai pendukung ISIS.

    Kalau kamu suka artikel ini, ayo klik Suka!

    Menyajikan berita infotainment setiap hari

    Ikuti @gozzipindo
    Beritahu artikel ini pada teman
    • Tweet
    • Share

    Artikel pada kategori yang sama

    Artikel terkait

    Kata Kunci Terkait

    Cari artikel rangkuman dari kata kunci

    PERHATIAN !